Elang Jawa memiliki nama ilmiah Spizaentus bartelis dan sebutan “Alap-alap” bagi masyarakat lokal.  Sesuai dengan namanya, satwa ini merupakan endemik Pulau Jawa. Karena dianggap identik dengan Indonesia dan merupakan burung petarung, satwa ini dijadikan sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

CIRI FISIK

Elang Jawa dewasa memiliki ukuran 60-70 cm dengan rentang sayap mencapai 1,8 m dan bobot rata-rata 2,5 kg. Bulu pada kepalannya berwarna coklat cerah kekuningan dengan jambul yang menjulang ke atas  (2-4 bulu sepanjang + 12cm) berwarna hitam dengan ujung berwarna putih, punggung serta sayapnya berwarna coklat gelap, serta di bagian kerongkongan berwarna putih garis-garis hitam hingga dada, perut dan kaki.

MATA

Elang Jawa memiliki iris mata berwarna kuning kecoklatan. Elang dapat melihat dengan sudut pandang 300 derajat serta dapat memperbesar objeknya 6 sampai 8 kali lipat, dengan begitu ia dapat melihat hamparan seluas 30.000 he pada ketinggian 4500 m dan dapat melihat jelas mangsanya di balik rumput dari ketinggian 1500 m.

PARUH

Elang Jawa memiliki paruh berwarna kehitaman, dengan bentuk meruncing berkait biasa digunakan untuk mencabik mangsanya ketika makan. Elang Jawa berbunyi tinggi nyaring (klii-iiw atau ii-iiw) bervariasi 2-3 suku kata. Terkadang juga bersuara tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli .

SAYAP

Elang Jawa memiliki sayap yang berjari runcing di bagian ujung dan ketika direntangkan dapat mencapai + 1,8 m, dua kali panjang tubuhnya. Otot-otot dibagian dadanya yang memungkinkan ia mampu melakukan perjalanan jauh dan dapat terbang dengan dengan cepatan. Ia suka terbang soaring atau gliding sebelum menukik tajam dengan kecepatan tinggi untuk menangkap mangsanya. Sayapnya yang lebar juga memungkinkan dia untuk dapat nenerbangkan mangsa yang cukup besar ke dalam sarangnya.

KAKI

Elang Jawa memiliki kaki berjari yang di lengkapi dengan cakar, tiga di depan dan satu di belakang. Biasa dia gunakan untuk bertengger di dahan dan mencengkram mangsanya dengan sangat kuat sehingga mampu menembus bagian kulit mangsanya. Disaat musim kawin ia biasa terbang bersama betinanya dan saling beradu cakar di udara untuk menjatuhkan.

HABITAT

Elang Jawa tersebar dari ujung barat Taman Nasional Ujung Kulon Hingga timur Semenanjung Blambangan Purwo. Persebarannya terbatas di hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Nampaknya burung ini spesialisasi pada wilayah berlereng.

Elang Jawa merupakan ekosistem hutan hujan tropis dimana hutan selalu hijau. Ia dapat hidup hingga ketinggian 3000 mdpl.

PERKEMBANGBIAKAN

Masa bertelur yang tercatat adalah kisaran bulan januari – juni. Telurnya berjumblah 1-2 butir namun dalam persaingannya hanya akan ada 1 anakan yang dapat hidup. Telur di erami selama + 47 hr. Elang dewasa bereproduksi pada usia 3-4 th dan elang betina bertelur sebutir dalam kurun waktu 2-3 th.

Sarang elang jawa berupa tumpukan ranting-ranting pohon berbentuk cawan dengan diameter +.45cm, pada pohon dengan ketinggian 20-30m diatas tanah. Pohon yang biasa ditempati sarang Elang Jawa adal rasamala (Altingia excels), pasang (Lithocarpus dan Quercus), tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii) dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus).

Keberhasilan perkembangbiakan elang jawa dipengaruhi lingkungan sekitar. Keberadaan mangsa untuk mencukupi kebutuhan pasangan dan anaknya selama masa perkembangbiakan merupakan faktor utama.

Selama masa perkembangbiakannya elang jawa jantan dan betina akan saling bekerjasama. Biasanya elang jantan akan sibuk untuk mencari makan sarangnya sementara sang betina sibuk membuat sarang. Setelah bertelur sang betina akan mengeraminya selama 47hr. setelah menetas induk elang akan bergiliran untuk mencari makan dan menyuapi anaknya. Setelah 9  minggu anak elang mulai tumbuh bulu, dia mulai dapat mengepak-ngepakan sayapnya, menyelisik, bersuara dan melompat-lompat. Setelah 30 minggu anak elang mulai belajar untuk memburu mangsanya, terbang melingkar, membawa ranting dan mematikan mangsanya.

 

Data menyebutkan bahwa elang hanya kawin dengan satu betina dari tahun ke tahun, bahkan dia masih sering mengunjungi sarangnya setelah anaknya dewasa.